LANGKAT – Membangun generasi emas Indonesia tidak cukup hanya dengan memberikan pendidikan yang baik, tetapi juga harus dimulai dari keluarga yang sehat, harmonis, dan memiliki perencanaan masa depan yang matang.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) yang digelar Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN bersama mitra kerja Komisi IX DPR RI, Delia Pratiwi Br. Sitepu, S.H., di Desa Aman Damai, Kecamatan Serapit, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Kamis (15/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung penuh keakraban dan interaksi tersebut diikuti ratusan masyarakat, perangkat desa, tokoh masyarakat, serta tokoh agama. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai tanggapan dan pertanyaan yang disampaikan selama sesi sosialisasi, khususnya mengenai kesehatan keluarga, pencegahan stunting, pengasuhan anak, hingga pentingnya keterlibatan ayah dalam kehidupan keluarga.
Turut hadir sebagai narasumber, Dra. Rabiatun Adawiyah, MPHR., Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana Ahli Madya Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Utara, serta Dr. Immanuel Pinem, Kepala Bidang Keluarga Berencana Dinas PPKB dan PPA Kabupaten Langkat.
Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars KB, dilanjutkan dengan penyampaian materi dan dialog interaktif bersama masyarakat.
Delia Pratiwi: Generasi Emas Dimulai dari Keluarga Berkualitas
Dalam pemaparannya, Anggota Komisi IX DPR RI Delia Pratiwi Br. Sitepu menekankan bahwa keluarga memiliki peran fundamental dalam menentukan kualitas generasi penerus bangsa, terutama dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan nasional tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur maupun pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kualitas sumber daya manusia yang dibentuk sejak lingkungan keluarga.
Delia menjelaskan bahwa perencanaan keluarga menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan setiap anak memperoleh perhatian, pendidikan, pelayanan kesehatan, serta pemenuhan gizi yang memadai.
Ia juga memperkenalkan berbagai pilihan alat kontrasepsi bagi perempuan, mulai dari pil KB, suntik KB, implan, alat kontrasepsi dalam rahim (IUD), hingga metode kontrasepsi mantap seperti tubektomi.
Melalui pemahaman yang baik mengenai kesehatan reproduksi dan keluarga berencana, masyarakat diharapkan dapat menentukan pilihan kontrasepsi sesuai kebutuhan dan kondisi kesehatan dengan pendampingan tenaga medis.
Tidak hanya membahas kontrasepsi, Delia juga mengajak peserta memahami persoalan stunting yang masih menjadi tantangan dalam pembangunan kualitas generasi bangsa.
Dengan gaya komunikasi yang santai, Delia mengajukan pertanyaan langsung kepada masyarakat mengenai pengertian stunting. Sejumlah peserta pun memberikan jawaban berdasarkan pemahaman mereka, sehingga suasana sosialisasi berlangsung semakin hidup.
Delia mengingatkan bahwa stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak, melainkan kondisi gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis dan faktor lainnya, terutama dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan.
Anak yang memiliki tubuh pendek belum tentu mengalami stunting. Karena itu, pemantauan pertumbuhan melalui pelayanan kesehatan menjadi langkah penting untuk mengetahui kondisi tumbuh kembang anak secara tepat.
Dalam kesempatan tersebut, Delia juga menyoroti pentingnya kesehatan ibu sebelum dan selama kehamilan, termasuk pencegahan anemia, pemenuhan gizi seimbang, pemeriksaan kehamilan, serta pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi.
Ia mengajak para suami agar tidak menyerahkan seluruh tanggung jawab pengasuhan dan kesehatan keluarga kepada istri.
Kehadiran seorang ayah, menurutnya, tidak cukup hanya sebatas memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga harus diwujudkan melalui perhatian, kasih sayang, dukungan emosional, dan keterlibatan langsung dalam merawat serta mendidik anak.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pencegahan stunting membutuhkan kerja sama seluruh anggota keluarga, bukan hanya tanggung jawab seorang ibu.
BKKBN Hadir Sepanjang Siklus Kehidupan, dari Calon Pengantin hingga Lansia
Sementara itu, Dra. Rabiatun Adawiyah, MPHR., menjelaskan bahwa transformasi BKKBN menjadi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga membawa penguatan peran pemerintah dalam pembangunan keluarga secara menyeluruh.
BKKBN kini tidak hanya berfokus pada pelayanan kontrasepsi dan pengendalian penduduk, tetapi juga hadir mendampingi masyarakat dalam setiap tahapan kehidupan, mulai dari persiapan pernikahan, kehamilan, masa balita, remaja, usia produktif, hingga lanjut usia.
Dalam paparannya, Rabiatun memperkenalkan sejumlah program prioritas Kemendukbangga/BKKBN, di antaranya Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Lansia Berdaya (SIDAYA), serta Makan Bergizi Gratis bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD (MBG 3B).
Salah satu materi yang menarik perhatian peserta adalah program GATI, yang mendorong keterlibatan ayah secara aktif dalam kehidupan anak.
Rabiatun mengajak para ayah yang hadir untuk mengevaluasi perannya dalam keluarga melalui pertanyaan sederhana mengenai kebiasaan mengantar anak ke sekolah dan mengambil rapor.
Pertanyaan tersebut mendapat tanggapan beragam dari peserta. Sebagian ayah mengaku lebih sering mengantar anak ke sekolah, sementara urusan pengambilan rapor masih banyak dilakukan oleh ibu.
Melalui dialog tersebut, Rabiatun menegaskan pentingnya keterlibatan ayah dalam pendidikan, pengasuhan, dan pembentukan karakter anak.
Menurutnya, kehadiran ayah secara emosional dan fisik merupakan salah satu fondasi penting untuk membangun anak yang percaya diri, memiliki karakter kuat, serta tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang.
Selain GATI, Rabiatun juga menyoroti pelaksanaan program MBG 3B sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas gizi kelompok sasaran.
Saat ditanyakan mengenai pelaksanaan program tersebut, sejumlah peserta menyampaikan bahwa bantuan makanan bergizi bagi ibu hamil sudah mulai diterima masyarakat.
Menanggapi hal itu, Rabiatun mengingatkan pentingnya peran Tim Pendamping Keluarga (TPK), Penyuluh KB, serta pemerintah setempat dalam mendukung pendataan, pendampingan, dan pemantauan penyaluran program agar tepat sasaran.
Tidak kalah penting, ia memperkenalkan program SIDAYA yang bertujuan mendorong kelompok lanjut usia tetap sehat, mandiri, aktif, dan produktif.
Menurutnya, bertambahnya usia tidak boleh menjadi penghalang bagi seseorang untuk terus berkarya dan memberikan manfaat bagi keluarga maupun lingkungan sekitarnya.
Rabiatun juga mengingatkan para orang tua, khususnya ibu yang memiliki balita, untuk memanfaatkan kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB) sebagai sarana meningkatkan pengetahuan tentang pola asuh, kesehatan, dan tumbuh kembang anak.
Ia mengajak masyarakat untuk terus berkomunikasi dengan kader TPK, Penyuluh KB, maupun petugas kesehatan apabila membutuhkan informasi dan pendampingan terkait pembangunan keluarga.
GENTING Dorong Semangat Gotong Royong Cegah Stunting
Pada sesi berikutnya, Kepala Bidang KB Dinas PPKB dan PPA Kabupaten Langkat, Dr. Immanuel Pinem, menyoroti pentingnya kolaborasi seluruh elemen masyarakat dalam mempercepat penurunan stunting.
Salah satu langkah yang terus didorong adalah penguatan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), yaitu gerakan kepedulian dan gotong royong untuk membantu keluarga yang berisiko stunting.
Melalui program ini, pemerintah mengajak masyarakat, dunia usaha, tokoh masyarakat, dan berbagai pihak untuk berkontribusi sebagai orang tua asuh dalam mendukung pemenuhan kebutuhan keluarga sasaran.
Immanuel menjelaskan bahwa upaya pencegahan stunting akan lebih efektif apabila dilaksanakan secara bersama-sama, mulai dari pemerintah daerah hingga tingkat desa.
Ia juga menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan bagi perempuan usia subur dan calon ibu, termasuk pengukuran lingkar lengan atas (LiLA) untuk mendeteksi risiko kekurangan energi kronis.
Pengukuran LiLA di bawah 23,5 sentimeter pada ibu hamil menjadi salah satu indikator risiko kekurangan energi kronis yang memerlukan perhatian dan tindak lanjut dari tenaga kesehatan.
Melalui edukasi tersebut, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya mempersiapkan kehamilan yang sehat agar bayi dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Selain itu, Immanuel turut menyoroti penguatan peran ayah melalui program GATI serta pentingnya sinergi pemerintah daerah, kelompok remaja, dan berbagai mitra dalam mendukung pembangunan keluarga.
Dari Desa Aman Damai, Bangun Keluarga Tangguh untuk Indonesia Emas
Sosialisasi Bangga Kencana di Desa Aman Damai menjadi ruang dialog yang mempertemukan pemerintah, wakil rakyat, dan masyarakat dalam membahas berbagai persoalan nyata yang dihadapi keluarga.
Melalui penyampaian materi yang komunikatif dan interaktif, masyarakat tidak hanya memperoleh informasi mengenai kontrasepsi dan pencegahan stunting, tetapi juga semakin memahami pentingnya pengasuhan anak, keterlibatan ayah, pemenuhan gizi, serta pemberdayaan lansia.
Kegiatan ini sekaligus mempertegas komitmen Kemendukbangga/BKKBN bersama Komisi IX DPR RI untuk terus memperluas edukasi dan pendampingan keluarga hingga ke tingkat desa.
Diharapkan, pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari serta disebarluaskan kepada keluarga dan lingkungan sekitar.
Sebab, Indonesia Emas 2045 tidak hanya dibangun melalui pembangunan fisik dan kemajuan teknologi, tetapi juga melalui keluarga-keluarga yang sehat, terencana, berdaya, dan berkualitas. Dari keluarga yang kuat, lahirlah generasi hebat untuk masa depan Indonesia. (ABN/dan)




















