TIDORE — Sejarah Tidore tidak dapat dilepaskan dari proses panjang terbentuknya masyarakat, kekuasaan, perdagangan, dan perkembangan Islam di kawasan Maluku Utara. Dalam perspektif sejarah peradaban, Tidore bukan sekadar sebuah pulau atau pusat pemerintahan kesultanan, melainkan salah satu simpul penting jaringan perdagangan dan kekuasaan Islam di kawasan timur Nusantara.
Gagasan mengenai “Tongowai Gam Tina, Islam dan Awal Peradaban Islam Tidore” yang dikemukakan Syamsul Rizal menempatkan sejarah Tidore dalam kerangka yang lebih luas: hubungan antara ruang hidup masyarakat, terbentuknya identitas politik, masuknya Islam, dan lahirnya sebuah pusat peradaban yang kemudian memiliki pengaruh hingga wilayah Maluku dan Papua.
Dari Komunitas Lokal menuju Pusat Kekuasaan
Sejumlah sumber sejarah menunjukkan bahwa sejarah awal Tidore jauh lebih tua daripada pembentukan Kesultanan Tidore sebagai kerajaan Islam. Tradisi sejarah Kesultanan Tidore mencatat keberadaan pemerintahan awal yang dipimpin oleh Jou Kolano, sementara perubahan dari kerajaan bercorak lokal menuju kesultanan Islam berlangsung melalui proses historis yang panjang.
Salah satu sumber yang dikelola Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat tradisi mengenai Jou Kolano Sah Jati yang dikaitkan dengan tahun 1108 M. Namun, sumber yang sama juga menunjukkan bahwa kronologi awal pemerintahan Tidore tidak sepenuhnya sederhana dan masih bergantung pada perbandingan antara tradisi lokal, sumber Eropa, dan penelitian sejarah modern.
Karena itu, angka tahun dalam sejarah awal Tidore perlu ditempatkan sebagai tradisi kronologis yang harus dibaca secara kritis, bukan sebagai fakta tunggal yang tidak memiliki perdebatan akademis.
Perkembangan Tidore kemudian membentuk karakter yang berbeda ketika Islam mulai memperoleh tempat dalam lingkungan elite kerajaan. Sejumlah penelitian menyebut Islam telah hadir di Maluku Utara setidaknya sejak abad ke-14, sementara proses pelembagaan Islam di Tidore berkembang lebih kuat pada abad ke-15.
Islamisasi Tidore dan Lahirnya Kesultanan
Salah satu titik penting dalam sejarah Tidore adalah proses Islamisasi lingkungan kerajaan. Sumber sejarah Indonesia menyebut Kolano Cirililiati sebagai penguasa Tidore yang memeluk Islam dan kemudian menggunakan nama Sultan Jamaluddin. Pemerintahannya secara tradisional ditempatkan sekitar akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16.
Direktorat Pelindungan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat bahwa Kesultanan Tidore menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan pada masa Sultan Jamaluddin, yang ditempatkan sekitar 1495–1512 M. Setelah Islam menjadi agama resmi, unsur-unsur Islam semakin memengaruhi kehidupan politik dan kebudayaan masyarakat, termasuk berkembangnya kedaton dan masjid kesultanan.
Temuan tersebut penting karena memperlihatkan bahwa Islamisasi Tidore bukan sekadar perubahan keyakinan individu. Islam berkembang menjadi bagian dari struktur politik, kebudayaan, hukum, dan identitas kerajaan.
Kajian tentang Kesultanan Ternate dan Tidore juga menunjukkan pola umum Islamisasi di Maluku: agama mula-mula berkembang di lingkungan elite kerajaan, kemudian meluas kepada masyarakat. Proses tersebut berlangsung melalui hubungan perdagangan, jaringan ulama, hubungan antarpulau, dan pendekatan budaya.
Tidore sebagai Simpul Perdagangan dan Pertemuan Budaya
Letak geografis Tidore mempunyai arti strategis. Maluku Utara berada di antara jalur perdagangan yang menghubungkan kawasan Asia Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga wilayah Papua.
Komoditas rempah-rempah, terutama cengkeh dan pala, menjadikan kawasan ini sebagai salah satu wilayah perdagangan yang sangat penting. Kehadiran pedagang dari berbagai kawasan membawa serta bahasa, teknologi pelayaran, gagasan politik, kebudayaan, dan agama.
Dalam konteks inilah Islam berkembang di Maluku bukan dalam ruang yang terisolasi. Islam berinteraksi dengan masyarakat lokal melalui jaringan perdagangan dan hubungan sosial-politik. Penelitian Muhammad Rais mengenai sejarah sosial Kesultanan Tidore menunjukkan penggunaan berbagai jenis sumber—kronik, manuskrip, buku sejarah, artikel, artefak, dokumen, wawancara, dan observasi—untuk memahami proses Islamisasi Tidore.
Dengan demikian, sejarah awal Islam Tidore sebaiknya dipahami sebagai bagian dari sejarah konektivitas maritim Nusantara, bukan semata-mata sebagai sejarah sebuah kerajaan di satu pulau.
Dari Pusat Islam menjadi Pusat Peradaban
Pentingnya Tidore semakin terlihat dalam penelitian arkeologi modern. Kajian Wuri Handoko dan Syahruddqin Mansyur dalam Berkala Arkeologi menyimpulkan bahwa Kesultanan Tidore bukan hanya wilayah yang menerima pengaruh Islam, tetapi berkembang sebagai salah satu pusat kekuasaan Islam dengan pengaruh yang luas di Kepulauan Maluku dan Papua.
Penelitian tersebut menggunakan data sejarah dan bukti arkeologi untuk menunjukkan karakter Tidore sebagai kota kesultanan. Artinya, perkembangan Tidore dapat dibaca melalui keberadaan pusat pemerintahan, ruang keagamaan, jaringan permukiman, artefak, serta hubungan antara pusat kekuasaan dengan wilayah-wilayah periferi.
Konsep tersebut memperkuat gagasan bahwa peradaban Islam di Tidore tidak berhenti pada perubahan agama kerajaan. Ia berkembang menjadi sistem sosial dan politik yang memiliki kemampuan memengaruhi wilayah lain.
Pengaruh Tidore hingga Papua
Salah satu aspek terpenting dalam sejarah Kesultanan Tidore adalah hubungan dengan wilayah Papua.
Penelitian mengenai Kesultanan Tidore dan Islamisasi Papua abad XV–XVIII menunjukkan bahwa Islam telah masuk ke wilayah Papua melalui jaringan perdagangan masyarakat Maluku. Dalam perkembangan berikutnya, pengaruh politik Kesultanan Tidore ikut memperluas pengaruh Islam dan kebudayaan Melayu-Islam ke berbagai wilayah Papua.
Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan Tidore tidak hanya diukur berdasarkan luas wilayah inti kesultanan, tetapi juga melalui jaringan hubungan politik, perdagangan, dan budaya yang terbentuk dengan wilayah periferi.
Karena itu, ketika membicarakan awal peradaban Islam Tidore, cakupan pembahasannya tidak cukup berhenti di Pulau Tidore. Sejarahnya harus dilihat sebagai bagian dari jaringan peradaban maritim yang menghubungkan Maluku, Maluku Utara, dan Papua.
Tongowai Gam Tina dalam Perspektif Sejarah
Dalam kerangka pemikiran Syamsul Rizal, istilah “Tongowai Gam Tina” dapat ditempatkan sebagai pintu masuk untuk membaca hubungan antara masyarakat, ruang, dan sejarah Tidore.
Namun, secara akademis, istilah tersebut perlu dibedakan antara istilah budaya atau tradisi lokal dengan istilah yang telah memperoleh definisi dalam literatur sejarah akademik. Sampai pada sumber-sumber yang dapat diverifikasi dalam penelusuran ini, belum ditemukan rujukan ilmiah yang cukup kuat untuk menetapkan satu definisi historis tunggal mengenai “Tongowai Gam Tina”.
Karena itu, penelitian lebih lanjut terhadap manuskrip lokal, silsilah Kesultanan Tidore, tradisi lisan, bahasa Tidore, arsip kolonial, serta tinggalan arkeologi menjadi penting untuk menjelaskan konsep tersebut secara lebih komprehensif.
Pendekatan seperti ini justru penting agar sejarah lokal tidak hanya ditulis berdasarkan satu jenis sumber. Tradisi lisan dan ingatan kolektif masyarakat dapat menjadi sumber penting, tetapi harus diperbandingkan dengan sumber tertulis, artefak, kronik, dan hasil penelitian arkeologi.
Kajian terhadap sejarah Tidore memperlihatkan bahwa sejarah tidak cukup disusun dalam urutan “raja pertama, masuknya Islam, berdirinya kesultanan, lalu masa kejayaan”. Sejarah merupakan proses terbentuknya masyarakat dan institusi yang berlangsung melalui interaksi berbagai kekuatan.
Dalam kasus Tidore, terdapat sedikitnya lima unsur penting yang saling berhubungan:
1. Masyarakat dan tradisi lokal sebagai fondasi kehidupan awal;
2. Kekuasaan Kolano sebagai bentuk awal organisasi politik;
3. Jaringan perdagangan maritim yang menghubungkan Tidore dengan dunia luar;
4. Islamisasi elite dan masyarakat yang kemudian membentuk identitas kesultanan;
5. Ekspansi pengaruh politik dan budaya hingga wilayah Maluku dan Papua.
Kelima unsur tersebut memperlihatkan bahwa lahirnya peradaban Islam Tidore merupakan proses historis yang panjang.
Catatan Penting Mengenai Sumber Sejarah
Sejumlah tanggal dan tokoh dalam sejarah awal Tidore memiliki versi yang berbeda antara tradisi lokal dan sumber-sumber historiografi. Karena itu, klaim seperti berdirinya kerajaan pada tahun tertentu atau siapa penguasa pertama yang memeluk Islam perlu selalu disebutkan bersama jenis sumber yang digunakan.
Pendekatan akademis menjadi penting karena sumber sejarah Tidore berasal dari berbagai tradisi: kronik lokal, sumber Portugis dan Spanyol, catatan Belanda, penelitian arkeologi, manuskrip, serta tradisi lisan masyarakat.
Penelitian mengenai naskah Kontrak Tidore, misalnya, memperlihatkan bagaimana dokumen beraksara Jawi dan berbahasa Melayu dapat digunakan untuk merekonstruksi perubahan hubungan politik antara Kesultanan Tidore dan Belanda pada abad ke-19.
Artinya, sejarah Tidore harus dibangun melalui kritik sumber dan perbandingan lintas-disiplin, bukan hanya melalui satu narasi.
Pemikiran “Tongowai Gam Tina, Islam dan Awal Peradaban Islam Tidore” membuka ruang untuk melihat Tidore sebagai salah satu pusat penting pembentukan peradaban Islam di Indonesia bagian timur.
Bukti sejarah dan penelitian arkeologi menunjukkan bahwa Tidore berkembang dari lingkungan politik lokal menjadi kesultanan Islam yang mempunyai pengaruh luas. Islamisasi tidak hanya mengubah orientasi keagamaan masyarakat, tetapi juga membentuk institusi politik, kebudayaan, jaringan perdagangan, dan hubungan antardaerah.
Kajian arkeologi bahkan menempatkan Tidore sebagai salah satu pusat kekuasaan Islam yang pengaruhnya menjangkau Kepulauan Maluku dan Papua.
Dengan demikian, sejarah Islam Tidore merupakan bagian penting dari sejarah peradaban maritim Nusantara. Ia menunjukkan bagaimana agama, perdagangan, kekuasaan, budaya lokal, dan jaringan antarpulau berinteraksi membentuk sebuah peradaban.
Pada titik inilah gagasan Syamsul Rizal tentang Tongowai Gam Tina dapat dikembangkan lebih jauh: bukan sekadar sebagai ungkapan sejarah lokal, tetapi sebagai konsep yang perlu diuji melalui penelitian terhadap sumber-sumber primer dan sekunder agar dapat memberikan kontribusi terhadap historiografi Tidore dan sejarah Islam Indonesia bagian timur.
(ABN/Leriadi)
- Pendopo Nusantara Mandiri Akan Himpun dan Kukuhkan 88 Ormas di Sumut Dukung Indonesia Emas – Agustus 19, 2026
- Syamsul Rizal Dano Jiko: Kampung Tongowai Gam Tina dan Awal Peradaban Islam di Kesultanan Tidore – Agustus 19, 2026
- Pengukuran Terjadwal Beri Kepastian Waktu Layanan bagi Masyarakat di 446 Kantah – Agustus 19, 2026












