Teologi Vaksinasi: Merespon Program Vaksinasi C-19

Solah

Oleh: Dr Salahuddin Harahap MA

SEBAGAI seorang pengagum Rasulullah Muhammad Saw, saya ingin mulai tulisan ini dengan mengutip salah satu Hadis Beliau yang diriwayatkan oleh Syeikh Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al Qusyairi an Naisaburi, sebagai berikut:

Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ma’ruf dan Abu Ath Thahir serta Ahmad bin ‘Isa mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb; Telah mengabarkan kepadaku ‘Amru, yaitu Ibnu al-Harits dari ‘Abdu Rabbih bin Sa’id dari Abu Az Zubair dari Jabir dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda: “Setiap penyakit ada obatnya. Apabila ditemukan obat yang tepat untuk suatu penyakit, akan sembuhlah penyakit itu dengan izin Allah ‘azza wajalla.” (HR Muslim).

Hadis ini disampaikan Rasulullah Saw, tentu dalam kapasitasnya sebagai Guru Hudhuri (Ladunni) yang melaluinya seluruh ilmu menjadi satu kesatuan yang universal tanpa batas dan tanpa sekat. Ungkapan Beliau Saw, ini harus dilihat sebagai meliputi keseluruhan horison mulai dari konsep, teori hingga eksprimentasi. Karena itulah, patut diyakini bahwa tidak ada satu penyakit pun yang muncul di dunia ini tanpa ditemukan antinya atau obatnya.

Tidak berhenti pada penyampaian Hadis Rasulullah Saw, bahkan beberapa Nabi lain seperti Sulaiman As, Nabi Yusuf As, Isa al-Masih As dal lainnya telah memerankan diri sebagai dokter, pemerhati bahkan peneliti obat-obatan dan kesehatan, hingga dikenal adanya Pengobatan Ala Nabi (al-Thibbu al-Nabawi).

Di beberapa waktu silam, kehadiran pandemi Covid-19 di dunia, telah sempat menggegerkan bahkan menghawatirkan secara massif masyarakat dunia. Tidak sekadar kehawatiran soal kesehatan, ekonomi dan sosial politik, bahkan lebih jauh telah hampir menjadi kekhawatiran atas keberlanjutan kehidupan manusia atau dapat disebut sebagai kekhawatiran eksistensial masyarakat bumi.

Kekhawatiran ini menjadi semakin kentara dan menyebar, ketika sejumlah opini dan wacana tentang ketiadaan vaksin atau obat bagi Virus Covid-19 dikembangkan lewat berbagai media dan momentum. Hampir saja dalam situasi ini, tingkat penyebaran kehawatiran akan bahaya Virus Covid-19 bahkan melampaui penyebarannya sendiri.

BACA JUGA :  Petani Salak Sidempuan, dari Dampak Corona Hingga Masalah Budidaya

Program Vaksin Untuk Kemanusiaan

Kembali kepada optimisme yang dibangun Rasulullah Saw, tentang kemestian adanya obat bagi setiap jenis dan karakter penyakit. Maka, patut diyakini bahwa mesti ada obat atau vaksin bagi Virus Covid-19 yang telah menjadi penyakit pandemi ini. Jika berdasarkan Hadis ini Rasulullah Saw telah melakukan eksprimentasi pengobatan sejumlah penyakit lewat berbagai media seperti do’a, air, tumbuh-tumbuhan, tanah dan lainnya.

Usaha yang sama telah juga dilakukan oleh Nabi Sulaiman As, Yusuf As, bahkan eksprimentasi tertinggi yang dilakukan oleh Isa al-Masih As dengan menghidupkan orang yang telah mati yang merupakan temuan terdahsyat sepanjang sejarah manusia di bumi. Berdasarkan pengalaman para Nabi tersebut, maka sebagai pewaris atau generasi penerus mereka, patutlah jika kita memiliki motivasi serta semangat yang sama dalam melakukan berbagai upaya eksprimentasi untuk menemukan obat atau vaksin atas berbagai wabah dan penyakit termasuk Virus C-19 yang menimpa kita saat ini.

Sebagai makhluk yang demikian halus, unik dan sangat dinamis, maka pengkajian dan penelitian terhadap V-19 ini tentu membutuhkan usaha serta waktu yang cukup banyak atau cukup panjang. Perlu dilakukan kajian mendalam dan komprehensif terhadap V-19 ini untuk menemukan jenis, identitas, karakteristik serta kekhasannya dari virus ini untuk seterusnya dapat ditemukan antinya atau vaksinnya.

Eksprimentasi dalam rangka penemuan vaksin ini harus dilihat sebagai tugas kemanusiaan, bahkan sebagai upaya Teologis dalam rangka memelihara kelestarian hidup manusia (Hifzhu al-Nafs) sebagai wujud dari kesadaran tugas dan eksistensi sebagai manusia sekaligus sebagai Khalifah Allah Swt, di bumi.

Mengacu kepada hal tersebut, maka ditemukan dan diproduksinya Vaksin oleh 6 Perusahaan sebagai berikut: (1) PT. Bio Farma (Persero); (2) AstraZeneca; (3) China National Pharmaceutical Group Corporation (Sinopharm); (4) Moderna; (5) Pfizer Inc and BioNTech; (6) Sinovac Biotech Ltd, patut dilihat sebagai upaya memperjuangkan kemanusiaan, meskipun tentu saja ada aspek-aspek lain yang turut terbonceng.

Bagi kita rakyat Indonesia, patut bersyukur terhadap beberapa hal; Pertama, terhadap semangat sejumlah saintis pada berbagai wilayah dan negara di dunia yang bersedia concern dalam mengkaji, meneliti, melakukan eksprimentasi hingga menemukan Vaksin C-19 ini sebagai pengejawantahan dari semangat mewarisi para Nabi yang dahulu pernah concern pada usaha ini.

BACA JUGA :  Aswan Jaya : Dimasa Pandemi Tak Bijak Naikan Iuran BPJS

Kedua, bersyukur bahwa secara waktu, penemuan vaksin ini tergolong masih sangat cepat bahkan lebih cepat dari perkiraan dan target para ilmuwan dunia, sehingga peningkatan jumlah korban pandemi ini dapat segera terbatasi.

Ketiga, kita pantas bersyukur karena Ilmuwan dan Pemerintah Republik Indonesia telah memberikan respon yang cukup cepat untuk turut aktif dalam penemuan, produksi hingga penyediaan vaksin ini sebagai upaya strategis membendung atau bahkan untuk memutus penyebaran wabah pandemi ini di Indonesia.

Tidak berhenti pada rasa syukur tersebut, kita patut memberi dukungan kepada Pemerintah Indonesia dalam penyelenggaraan program vaksinasi ini di Indonesia demi penyelamatan manusia Indonesia. Perlu ada dukungan Teologis untuk meyakinkan bahwa kandungan vaksin ini tidak bertentangan dengan konsep halal dalam agama.

Jangan sampai ada pemeluk agama yang ragu apalagi takut kalau penggunaan vaksin ini tidak bertentangan dengan ajaran agama apa pun di Indonesia. Begitu pun dengan dukungan ekonomi, sosial dan politik dari seluruh elemen bangsa dan rakyat Indonesia, agar terpastikan bahwa penggunaan vaksin ini benar-benar dalam rangka penyelamatan kemanusiaan, seterusnya demi terciptanya situasi dan kondisi yang benar-benar New Normal.

Penutup

Percobaan penggunaan vaksin perlu segera dilaksanakan bukan dalam rangka coba-coba, tetapi dalam rangka sosialisasi serta deklarasi bahwa vaksinasi ini benar-benar dalam rangka percepatan penanggulangan pandemi Covid-19, dan seterusnya dalam rangka pemeliharaan kelestarian masyarakat Indonesia dan dunia.

Karenanya, setiap orang dalam profesi dan posisinya masing-masing, diharapkan dapat memberikan dukungan bagi penyuksesan penyelenggaraan program vaksinasi ini.

(Penulis adalah Dosen Filsafat Islam UINSU dan Ketua DPP Gerakan Dakwah Kerukunan & Kebangsaan/GDKK)

486 total views, 9 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *