Ibu Megawati Soekarno Putri dan Aktualisasi Islam Kebangsaan

Oleh : Dr Salahuddin Harahap MA

DALAM konteks bernegara, Islam sebagai agama memiliki hubungan yang amat erat dengan berbagai dimensi kehidupan kita. Islam perlu hadir dalam setiap ranah kehidupan baik spiritual, rasional maupun empirikal. Dalam studi Islam (Islamic studies) sebagian pemikir telah melakukan klasifikasi Islam kepada tiga horison : (1) Islam as a ravival– sebagai wahyu yang mutlak; (2) Islam as thought— tafsir dan pemikiran bersifat dinamis dan terbuka; serta (3) Islam as a practices– implementasi ajaran Islam dalam berbagai praktik kehidupan.

Dua horison terakhir thought dan practices diduga telah memiliki aspek inklusif, elastis dan dinamis sehingga dapat beradaptasi dengan bergulirnya waktu dan sejarah kehidupan umat manusia di bumi ini. Karena sifatnya yang demikian terbuka dan elastis, siapa saja dengan kegigihan berkontemplasi, merenung, meneliti, berfikir kritis, berkehendak untuk mendorong pembaruan dan perubahan— akan berpeluang mendapatkan dimensi Islam yang begitu luwes sehingga dapat mengadaptasi dan mengakomodir aktivitas-aktivitas tersebut.

Dalam konteks ke-Indonesiaan, agaknya dapat diduga bahwa apa yang oleh Bung Karno disebut sebagai “Api Islam”– adalah dimensi esoteris ajaran Islam yang menjelma sebagai energi penggerak, pemberi bobot (value) dan pengawal etik pada setiap aspek kehidupan yang mengisi alam jagat raya ini.

“Api Islam”— inilah sesungguhnya yang menjadikan setiap renungan, pemikiran, keputusan, kebijakan dan kerja-kerja seorang muslim akan menjadi kontributif bagi kemajuan peradaban umat manusia dan seterusnya peradaban dunia.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa Bung Karno telah berhasil meletakkan “Api Islam” — dalam berbagai kerja-kerja anak bangsa disaat membangun semangat Nasionalisme, membangun semangat persatuan dan kesatuan, membangun semangat kebersamaan, membangun semangat bergotong-royong, bekerjasama serta harga menghargai dalam upaya merebut dan mengisi kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

Megawati Soekarno Putri– adalah salah seorang putri Bung Karno yang dipandang telah mewarisi prestasi-prestasi ayahnya secara lebih komprehensif. Tidak hanya mewarisi unsur-unsur fisik dan biologis, tetapi juga karakter-karakter dan pemikirannya, termasuk tentang bagaimana mendekati Islam, memahaminya dan meletakkannya dalam jantung dan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

BACA JUGA :  Mangapul Purba : Kembalikan Pancasila Menjadi Matapelajaran Wajib di Sekolah-Sekolah

Seperti halnya Bung Karno, Megawati Soekarno Putri mampu melihat Islam pada dimensi yang lebih substantif. Islam dan begitu pun juga agama lain telah hadir di bumi dan meliputi berbagai dimensi dan aspek kehidupan. Islam tidak hadir sebagai “sesuatu yang benar-benar baru” dan terpisah dari alam semesta, melainkan sebagai elan vital, penggerak dan sekaligus sebagai energi yang membuat alam semesta bisa tetap hidup, bertahan, stabil dan dinamis.

Bagi Megawati Soekarno Putri, Islam telah menjelma secara halus sebagai nilai, sistem, etika bahkan aksi pada berbagai dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara seperti demokrasi, keadilan, persatuan, kemasyarakatan dan kerakyatan.

Cara pandang ber-Islam demikian ini lah yang membuat Megawati Soekarno Putri telah berhasil menjadi satu-satunya perempuan yang menjadi pemimpin negara Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Aktualisasi “Api Islam” dalam konteks berdemokrasi di Indonesia, telah berhasil mendudukkan keadilan dan kesetaraan sebagai ruhnya. Perbedaan gender telah tidak menjadi persoalan dalam penetapan pemimpin dan dalam kepemimpinan di Indonesia. Keberislaman menjadi sangat substantif sehingga ajaran agama dan demokrasi menjadi saling mengadaptasi. Ajaran Islam telah menyatu dalam demokrasi Indonesia, sehingga siapa pun yang berhasil menyadari dan mengaktualisasi nilai demokrasi, maka sesungguhnya ia telah ber-Islam jika ia seorang muslim dan damai dan selamat jika ia seorang Kristen atau Nasrani.

Bagi Megawati Soekarno Putri, Konstitusi dan Pancasila menjadi harga mati dalam konteks berbangsa dan bernegara di Indonesia. Penting diingat bahwa konstitusi dan Pancasila bukan “nilai impor” bukan “nilai yang diadopsi”— melainkan nilai integrasi dan kolaborasi– lahir dari sinkritisasi, sinkronisasi, adaptasi dan sinergi berbagai aspek yang dimiliki bangsa indonesia.

Konstitusi dan Pancasila telah merupakan “Api Islam” yang lahir dari titik temu agama-agama yang ada di Indonesia pada dimensi esoteris. Keduanya juga telah dibangun dari rajutan-rajutan nilai yang lahir dari titik temu antara agama dengan budaya bangsa melalui kesadaran pluralitas dan inklusivitas. Konstitusi dan Ideologi Pancasila dengan demikian telah lahir dari ruh-nya atau dari fitrahnya Bangsa Indonesia. Bangsa ini akan tetap hidup, berkembang jika ruh ini terjaga dan terpihara serta lestari yang meliputi segenap aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

BACA JUGA :  Lain Syariah, Lain Fikih

Stabilitas dan Rasa Persatuan menjadi wujud lain dari “Api Islam” dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Stabilitas keamanan, ketertiban, kemakmuran, kesejahteraan hingga kebahagiaan dan kemuliaan telah menjadi cita-cita yang ingin diwujudkan oleh Bangsa Indonesia lewat merebut dan mengisi kemerdekaan.

Stabilitas ini sendiri hanya bisa diwujudkan jika aspek keadilan dan kesetaraan dapat terpelihara. Keadilan dan kesetaraan sendiri akan lahir dari adanya kesadaran akan kebersamaan, persatuan dan persaudaraan. Kesadaran tersebut sesungguhnya telah lahir dari ajaran agama, khususnya ketika agama sedang berhadapan dengan berbagai aktivitas kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan begitu, penegakan kesadaran ini sesungguhnya merupakan wujud dari adanya kesadaran religuusitas pada dimensinya yang lebih dalam.

Aspek-aspek inilah yang agaknya telah dapat diwujudkan oleh Ibu Megawati Soekarno Putri dalam kehidupan, perjuangan dan kepemimpinannya baik sebagai Politisi PDIP, sebagai Presiden Republik Indonesia yang ke-5 dan sebagai salah seorang Ibu Bangsa. Prestasi dan jasa besar inilah kemudian yang mendorong UIN Sumatera Utara, memandang penting untuk mengapresiasinya dengan merencanakan akan menganugerahkan Gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang Islam Kebangsaan kepada Ibu Megawati Soekarno Putri.

Penulis adalah Dosen Filsafat UIN Sumatera Utara, Direktur Laboratorium Pancasila & Islam Bung Karno UIN- Sumut’2020

1,168 total views, 3 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *