JADDIDÛ IMÂNAKUM: Selalulah Memperbarui Syahadatmu (Renungan Akhir Tahun 2019)

Oleh : Dr Salahuddin Harahap*

SALAH satu alasan mengapa seseorang mesti menganut suatu agama, meskipun tanpa agama ia merasa yakin dapat mencapai kebenaran lewat perangkat akal-nya dan qalbu-nya, adalah karena agama dipandang sanggup menjelaskan, memahamkan dan bahkan memberi testimoni secara universal tentang hakikat yang ada dan yang terjadi pada dimensi lintas waktu, lintas ruang bahkan beyond ruang dan waktu (al-syam’yāt).

Sedangkan tanpa agama, akan ada dimensi, bahkan dari dalam diri kita sendiri yang akan kabur, absurd bahkan terabaikan dan terlupakan. Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib Ra— telah menasehatkan agar “Setiap orang mesti menunaikan hak setiap organ tubuhnya” — dalam narasi lain dapat disebut bahwa “Setiap orang mesti menunaikan hak setiap dimensi dirinya”.

Pernyataan ini secara eksistensial telah menegaskan posisi ‘diri manusia’ sebagai terdiri atas dimensi fisik, dimensi jiwa, dimensi akal dan dimensi ruh. Sehingga konsisten terhadap hal itu, maka seorang manusia memiliki kewajiban untuk menunaikan hak-hak masing-masing dimensi tersebut agar dapat selaras.

Sains modern, pasca modern bahkan era 4.0– telah mencoba mendeklarasikan kemampuannya mewadahi pemenuhan hak-hak atas dimensi-dimensi tersebut. Meskipun dalam realitasnya yamg terlayani hanya meliputi alam fisik, jiwa dan rasio dan tanpa ruh. Lebih jauh, revolusi digital telah dengan ‘pede-nya’ menyatakan telah berhasil mengaktualisasi peradaban bahkan melampaui imajinasi rasio atau pikiran manusia, tanpa pernah mempertimbangkan ada dimensi ruh yang tanpa batas menanti di depannya.

Hal sejalan, di sebagian tempat saat ini, kita sudah tidak sulit menemukan sekelompok orang dengan mazhab berfikir tertentu berani mengklaim bahwa revolusi sains dan teknologi digital yang dimilikinya telah mampu menjawab kebutuhan eksistensinya hingga pada imajinasi masa depannya (eskatologis) seperti halnya yang dijanjikan oleh agama. Tentu saja hal ini bisa terjadi karena dimensi ruh telah ternegasikan.

Belakangan, atas dasar itu telah dimunculkan asumsi bahwa puncak pendakian peradaban akan berjalan secara simetris dengan puncak pencapaian kemajuan sains dan teknologi digitalisme. Alur pemikiran ini telah menghayalkan adanya diterminisme atau titik jenuh kemajuan digital yang seterusnya menjadi akhir dan sekaligus menjadi puncak capaian peradaban manusia. Sekali lagi, asumsi ini muncul tanpa mempertimbangkan eksistensi dimensi ruh manusia.

Celakanya, ketika asumsi ini telah berhasil menghegemoni cara pandang sebagian kita, sehingga hampir bersepakat bahwa tolok ukur kemajuan peradaban suatu bangsa terletak pada pencapaian kemajuan sains dan teknologi digital yang sejatinya berujung pada determinisme itu.

BACA JUGA :  Prof Yudian Wahyudi, Pancasila dan Masa Depan Bangsa

Sebagai seorang beragama, tentulah bagi saya pola pikir demikian bertentangan dengan kesadaran eksistensial manusia. Atau dalam bahasa lain saya ingin menyebutnya sebagai manipulaai eksistensi— dengan mereduksi sebagian eksistensi yang akan berujung kepada determinisme peradaban.

Dalam tradisi Filsafat Islam, yang disebut manusia adalah sautu eksistensi yang terdiri atas ruh, akal, jiwa dan fisik. Dimana dimensi-dimensi ini telah tersusun secara hirarkis dimana yang tertinggi harus mengendalikan dimensi di bawahnya. Sains modern dan digitalisme sendiri, diduga telah menegasikan dimensi termulia itu dari eksistensi manusia.

Dapat diduga bahwa, sebagian kita dikarenakan oleh hegemoni logika digitalisme, telah merasa putus asa dalam mengidentifikasi satu dimensi tertinggi dari diri kita yang disebut “al-rūh”, karena sifat dan karakternya yang sangat unik. Pesimisme ini menjadi semakin kuat, ketika seseorang menjadikan Surat al-Isrā: 85 — yang menandaskan bahwa “kamu tidak akan memahami hakikat ruh kecuali hanya sedikit saja”– sebagai alasan atau dalil keterbatasan.

Dalam situasi, ketidakmampuan mengenali dimensi tertinggi– yang semestinya menjadi hakikat atau pengendali utama ini, tidak jarang atau bahkan sebagian besar kita, telah memutuskan untuk mereduksi dimensi ini dari eksistensi kita— dan jadilah kita menjadi makhluk dengan badan, jiwa dan rasio tetapi tanpa ruh.

Barangkali, memperdebatkan makna ruh serta titik pisahnya dari akal dan jiwa, belum lah selesai hingga sekarang ini. Tetapi, secara sederhana saya ingin mengedepankan bahwa yang dimaksud dengan dimensi ruh dalam konteks eksistensi manusia– adalah dimensi yang menghubungkan manusia dengan alam serba sempurna dan serba tak terbatas.

Menghubungkan manusia dengan dimensi serba sempurna dan serba tak terbatas ini menjadi penting untuk menjaga agar manusia tidak terjerembab dalam determinisme rasa yang disandarkan pada hukum-hukum jiwa dan qalbu maupun determinisme rasio yang disandarkan kepada hukum-hukum akal.

Sementara orang, atas dasar keputusasaannya mengenali dimensi ruh– ini, kemudian mendegradasi puncak eksistensinya dari ruh turun ke akal, rasio dan bahkan turun ke emosi, lalu menjadikan rasio atau emosinya sebagai pengendali eksistensinya.

Al-Qur’an yang mulia telah menyindir golongan ini lewat Surat al-A’rāf:176 — bahwa mereka yang tidak berhasil menggunakan qalbu dan akalnya secara baik sebagai pengendali, maka mereka akan mengalami degradasi eksistensial dari manusia menuju hewan bahkan lebih rendah dari hewan. Inilah yang mau saya sebut sebagai manipulator eksistensi yang berdampak pada reduksi hakikat, kebenaran dan identitas.

BACA JUGA :  Pancasila dan Api Islam Bung Karno

Untuk menghindari nestapa kemanusiaan ini, menarik ketika kita menoleh kembali kepada pesan Rasulullah Saw yang dijadikan judul tulisan ini. “Jaddidū imānakum“— hendaklah kalian senantiasa memperbaharui iman kalian.

Iman (al-īmān) disini dapat dipahami sebagai metode mengenali, berhubungan, berkomitmen dengan Allah Swt, serta menyelenggarakan kehidupan berbasis hubungan-hubungan tersebut. Iman harus dibangun secara sistematis dan komprehensif sesuai dengan hakikat eksistensi manusia.

Mulla Shadrā ketika menjelaskan hubungan antara badan dengan jiwa menekankan bahwa pertumbuhan badan akan berjalan secara simetris dengan pertumbuhan jiwa. Jiwa akan mengalami perjalanan substansial (taraqqy) hingga mencapai sempurna secara seiring dan selaras dengan perjalanan badan menuju dewasa-sempurna. Itulah mengapa fase “bāligh“– dalam khazanah fiqh selain berkonotasi kedewasaan fisik juga identik dengan ” ‘āqil “— berakal sempurna.

Konsisten terhadap itu, keimanan juga akan mengalami perjalanan menuju sempurna seiring dengan perjalanan badan dan jiwa menuju kematangan atau kesempurnaan. Dalam setiap tahapan yang dilalui badan dan jiwa dalam menggapai kesempurnaan itu, iman harus juga mengalami fase-fase penyempurnaan.

Menarik sekali, ketika dalam lanjutan hadis Rasulullah Saw di atas, para sahabat bertanya tentang bagaimana metode memperbaharui keimanan tersebut. Lalu, Rasulullah Saw menjawab perbanyak dan terus-meneruslah mengatakan “Lāilāha illā Allāh”. Dengan begitu, dapat diduga bahwa salah satu metode pembaharuan iman itu lewat pembaruan syahadat.

Syahadat dengan demikian, harus menjadi kesimpulan dari setiap fase pencapaian integrasi kerja indrawi, jiwa dan akal. Setiap kali konsorsium indra, jiwa dan akal ini mengalami peningkatan pencapaian kebenaran, setiap kali itu pula iman harus diperbaharui lewat syahadat.

Menyongsong tahun baru ini, saya menyarankan agar kita melakukan pembaruan iman, pembaruan syahadat. Hingga ditemukan suatu martabat syahadat yang dapat mewadahi keterhubungan manusia dengan Allah Swt dalam kendali dimensi tertinggi bernama “al-rūh” itu. Sebuah dimensi beyond determinisme digitalisme, dimensi tanpa batas yang menghantarkan manusia ke hadirat Allah Swt. Wallāhu A’lam

* Penulis adalah Pengurus Laboratorium Pancasila & Islam Bung Karno UIN-SU serta Dosen Pasca Sarjana UIN-SU

2,448 total views, 3 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *