Teologi New-Normal (Pasca Covid_19) : Antara Sunnatullah dan Rekayasa Nalar

Sunnatullah

Oleh : Dr Salahuddin Harahap

 

BUNG ARISTOTELES (385-325 SM) lebih tertarik menamai Sang Penggerak Pertama untuk menyebut Tuhan. Penggerak yang tidak bergerak tetapi menjadi sumber dan pengendali gerakan. Menyebut Tuhan sebagai “Sang Penggerak” berarti menyeret Tuhan agar hadir di dalam ruang dan waktu atau hadir dalam alam semesta, sebab gerakan sendiri akan identik dengan ruang, kecepatan, jarak dan waktu.

Al-Qur’an yang Mulia memberi isyarat yang hampir sejalan dengan Teologi Aristotelian di atas, yang dapat dilihat pada ayat berikut: “Yasaluhu man fiis-samaawaati wal ardhi kulla yaumin huwa fii sya’nin (Q.S. al-Rahman: 29)_____ ditafsirkan secara bebas bahwa Allah Swt senantiasa sibuk dalam aktifitas menghidupkan dan mematikan, memberi rezeki, memuliakan dan menghinakan, memberi sakit dan menyembuhkan, menyuruh dan melarang, mengampuni dan menghukum, mengasihi dan memarahi terhadap makhluk-Nya. Dan Dia pula memberikan apa-apa yang diminta oleh semua yang ada di langit dan di bumi.

Ayat ini mengaskan betapa Allah Swt benar-benar terlibat dalam dinamika alam semesta, dinamika yang berlaku di alam semesta. Keterlibatan ini meliputi rencana, teori, aksi, pembobotan, penetapan hasil hingga evaluasi, sehingga jadi Allah Swt “al-Hayyu, al-Muhyiy wa Yumit” ___ Zat Maha hidup sumber kehidupan, pemelihara keberlangsungan hidup serta pengendali dan penghenti kehidupan.

Menjadikan “Penggerak” sebagai padanan bagi istilah “al-Muhyiy”— untuk mendudukkan satu aspek penting dari kehidupan yakni keniscayaan adanya proses menyempurna atau evolusi menuju lebih sempurna sebagai hakikat gerakan atau hakikat kehidupan. Dengan begitu, dinamika kehidupan di alam semesta bukan berkonotasi keberulangan atau sikus statis, melainkan merupakan gerak menuju kesempurnaan atau menapaki tahapan-tahapan menuju kesempurnaan.

Sir Muhammad Iqbal (1877-1938) dengan mengikuti Teologi Aristotelian menegaskan bahwa gerakan adalah hakikat kehidupan. Ketika seluruh gerakan dapat secara konsisten menuju kesempurnaan maka, maka terciptalah kehidupan yang normal. Sebaliknya jika terdapat indikasi bahwa ada gerakan statis, atau gerakan berputar-putar, maka sejatinya telah terjadi pelanggaran terhadap hakikat kehidupan sehingga jadilah hidup bergerak tidak normal atau tidak stabil.

BACA JUGA :  Hijrah New Normal Dakwah Untuk Peradaban

Sebagai ciptaan yang sempurna, alam semesta telah dilengkapi dengan sistem yang sangat sempurna disebut dengan fithrah, sunnatullah dan kausalitas. Lewat ketiga rumusan ini sebenarnya secara natural alam semesta akan mamapu bergerak secara konsisten menuju keseimbangan, harmoni dan kesempurnaan. Berdasarkan inilah maka al-Qur’an memuduh intervensi manusia sebagai gangguan atau ancaman bagi sistem gerak alam yangbtelah sempurna.
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar Ruum:41).

Ketika manusia mengambil posisi sebagai “al-mufsid”—— pengancam, perusak, penghambat gerakan kehidupan, maka jadilah alam sebagai pencipta new-normal bagi kehidupan. Sejumlah fenomena alam semesta akan tampil tak terkendali bukan untuk merusak sistem awal yang telah sempurna, tetapi untuk menetralisir, mengejar ketertinggaln, merumuskan lompatan-lompatan untuk mampu menciptakan new-normal sebagai syarat berjalannya secara konsisten gerakan menuju kesempurnaan tersebut. Boleh jadi, kehadiran, dampak dan akibat yang lahir dari kehadiran covid-19, dalam konteks tertentu dapat bermakna bahwa alam sedang tampil untuk mengambil kendali terciptanya new-normal dalam pergerakan alam semesta.

Pada situasi lain, sistem sempurna yang dimiliki alam semesta bisa saja tidak cukup untuk menampung dinamika kehidupan yang berjalan melampaui sistem yang ada disebabkan rekayasa jin dan manusia terlebih ketika memanfaatkan sains, industri dan teknologi digitalisme. Keberhasilan manusia merumuskan dan menggunakan mesin dan robot digital sebagai alat rekayasa dalam menciptakan lompatan gerakan peradaban bahkan hingga melampaui sunnatullah dan kausalitas, maka pada saat itu, manusia sebagi penemu dan pengendalinya telah menjadi pengndali gerakan alam semesta seterusnya menjadi pengendali new-normal.

Ketika al-Qur’an menegaskan secara simbolik status dan kapasitas Adam As sebagai yang memahami dan mampu mengendalikan sistem alam semesta (wa ‘allama Adama al-asma kullah— Q.S al-Baqarah:31), maka hal tersebut relah menjadi isyarat bahwa manusia yang memahami sistem dan hakikat alam semesta akan mampu mengendalikan sunnatullah serta kausalitas yang berlaku di alam. Lebih jauh, berkat penguasaan tersebut, maka manusia memiliki peluang untuk merumuskan rekayasa yang bahkan melampauninya dalam rangka terciptanya new-normal gerakan kehidupan.

BACA JUGA :  Baik-Buruk dalam Pandangan Manusia tidak Absolut

Dalam konteks kehadiran Covid-19, untuk beberapa hal kita sedang dituntut untuk hadir sebagai pengendali new-normal untuk dapat mewujudkan situasi normal di atas situasi up-normal yang lahir dari persinggungan antara sistem natural pada semesta dengan rekayasa kehidupan yang dibangun oleh alar manusia berbasis sains dsn teknologi digital.

Untuk tujuan tersebut, kita perlu mendudukkan kembali pemahaman terhadap sunnatullah dan kausalitas alam semesta dalam bernagai tesis. Lalu berupaya secara cepat untuk memahami rekayasa dan kreasi baru nalar manusia terhadap sistem sunnatullah dan kasultas tersebut sebagai antintesanya. Berdasarkan hal itu, dirumuskanlah sitesa yang berisi kolaborasi integratif antara sunnatullah dan kauaitas dengan rekayasa sains dan tenknologi digital untuk melahirkan rumusan-rumusan serta strategi baru mewujudkan kembali new-normal dalam kehidupan dan peradaban pasca Covid-19 yang telah melanda.

PENUTUP

Agar lebih implementatif, maka seluruh perenungan, diskursus, seminar, workshof, wabiner, penelitian, survey bahka FGD mesti diorientasikan dalam rangka terbangunnya pemahaman dan kesadaran akan fenomena kehidupan saat ini yang sedang membutuhkan new-normal. Lebih jauh, perlu ada penekanan agar setiap aktifitas akademik yang menjadi elan vital peradaban tersebut dapat berorientasi pada penemuan teori, sistem, strategi dan pengendalian demi terwujudnya new-normal yang benar-benar sejakan dengan agenda pergerakan kehidupan yang sedang menuju kesempurnaan ini. Wa Allahu A’lam

 

Penulis adalah Dosen Aqidah & Filsafat Islam FUSI UINSU ‘2020

861 total views, 3 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *